Mengungkap Pola Sebaran Kima Raksasa di Terumbu Tebabinga, Perairan Pulau Derawan
- Masyarakat Moluska Indonesia
- 20 Agu 2025
- 2 menit membaca
Kima raksasa (Tridacnidae) adalah salah satu biota karang paling ikonik di perairan tropis. Ukurannya yang besar dan warna mantelnya yang memikat menjadikannya primadona bagi penyelam. Namun, di balik keindahannya, kima menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi berlebihan dan perubahan lingkungan.

Penelitian terbaru oleh Bimo Aji Nugroho, Ahmad Fauzi, dan Alfi Suciyati dari Universitas Borneo Tarakan mencoba menjawab pertanyaan penting: Bagaimana pola sebaran kima di Terumbu Tebabinga, dan faktor lingkungan apa saja yang memengaruhinya?
Tiga Spesies, Dua Pola Sebaran
Dalam penelitian yang menggunakan metode belt transect di tujuh stasiun pengamatan ini, peneliti menemukan tiga spesies kima:
Tridacna crocea
Tridacna kerasa
Tridacna squamosa
Hasil analisis menunjukkan perbedaan menarik dalam pola distribusinya:
T. crocea memiliki pola sebaran mengelompok (clustered, Id = 1,01).
T. kerasa (Id = 0,84) dan T. squamosa (Id = 0,79) cenderung tersebar merata (uniform).
Perbedaan ini dipengaruhi oleh preferensi habitat. T. kerasa, misalnya, paling sering ditemukan pada substrat karang masif, rubble, dan pasir.
Lingkungan yang Mendukung, Tapi Belum Ideal
Secara umum, kondisi habitat di Terumbu Tebabinga masih mendukung kelangsungan hidup kima. Namun, ada catatan penting: beberapa parameter abiotik seperti salinitas dan oksigen terlarut (DO) berada di bawah standar kualitas yang direkomendasikan. Faktor ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan reproduksi kima dalam jangka panjang.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Kima bukan hanya bagian dari keindahan terumbu karang, tetapi juga penyaring alami yang membantu menjaga kejernihan air dan kesehatan ekosistem. Informasi pola sebaran dan kondisi lingkungannya sangat penting untuk pengelolaan berkelanjutan, sehingga eksploitasi tidak mengancam kelestarian spesies ini di masa depan.
Referensi
Nugroho, B. A., A. Fauzi, and A. . Suciyati. “Distribution Pattern of Giant Clams (Tridacnidae) in Tebabinga Reef, Derawan Island Waters, East Kalimantan:”. Jurnal Moluska Indonesia, vol. 9, no. 1, Apr. 2025, pp. 18-24, doi:10.54115/jmi.v9i1.121.



It is fascinating to read about the data modeling and environmental patterns used to track the distribution of giant clams in the Derawan Islands, as the precision required in such ecological research mirrors the technical challenges I encounter while navigating the intensive rigors of my current PhD research. Balancing my doctoral studies with a part-time role at last minute assignments has given me a front-row seat to the modern student experience, where the pressure to master complex data structures often clashes with overwhelming deadlines and the mental strain of academic life; having suffered through many high-stress hustles and sleepless nights during my own college days, I am now incredibly conscious of the mental toll that an unmanaged workload can take…
I like this post because it clearly explains how researchers study the distribution of giant clams in coral reef ecosystems to understand environmental balance and conservation needs. It shows how important data collection is in marine science. During a busy semester, I was managing several subjects and used Statistics assignment writing help at that time to stay organised. It helped me focus better on understanding key research ideas.